Situbondo, 18 Maret – Budidaya rumput laut kini menjadi komoditas unggulan yang siap membawa Indonesia mendunia. Keunggulan industri ini bahkan disebut melampaui sektor pertambangan, baik batu bara maupun nikel. Dengan potensi cash flow yang luar biasa, Indonesia siap menembus pasar internasional dan memperkenalkan diri sebagai pemain utama dalam industri perikanan budidaya.
HRM. Khalilur R. Ab. S., pemilik BRULANTARA (Bandar Rumput Laut Nusantara)—yang mengklaim memiliki area budidaya rumput laut terbesar di dunia seluas 50.000 hektar—telah menetapkan rencana ekspansi besar-besaran. Pada bulan April mendatang, ia akan menjelajahi 9 negara untuk memperkenalkan produk rumput laut Indonesia, sekaligus memperluas jaringan bisnis di bidang perikanan budidaya dan perikanan tangkap.
Menargetkan Pasar Global
Pasar utama yang menjadi sasaran ekspansi rumput laut Indonesia meliputi:
✅ China
✅ Jepang
✅ Amerika Serikat
✅ Eropa
✅ Korea Selatan
✅ Australia
✅ Thailand
✅ Malaysia
✅ Singapura
Selain rumput laut, ekspansi bisnis ini juga mencakup pemasaran lobster, dengan fokus utama pada tiga negara: China, Jepang, dan Amerika Serikat.
Membawa Identitas Kuat Indonesia ke Dunia
Dengan mengusung identitas sebagai “Pemilik Budidaya Rumput Laut Terbesar di Dunia”, HRM. Khalilur R. Ab. S. optimistis bisa menarik perhatian para pengusaha global. Ia menegaskan bahwa nelayan Indonesia tidak boleh merasa inferior di hadapan pembeli asing. Sebaliknya, Indonesia harus tampil sebagai negara maritim yang bangga dengan kekayaan lautnya.
“Saya akan hadir ke sembilan negara membawa kebanggaan Indonesia sebagai negara ekuator khatulistiwa. Dengan komitmen kuat dan identitas yang jelas, saya yakin industri rumput laut Indonesia bisa menjadi raja di pasar dunia,” tegasnya.
Dengan semangat keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, ekspansi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan Nusantara serta memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat industri perikanan dunia.











